Jalan Raya Pos Daendels

Jalan Raya Pos (De Grote Postweg ) adalah jalan yang terbentang dari Anyer sampai Panarukan yang panjangnya kurang lebih 1000 km. Dibangun pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Belanda Herman Willem Daendels (1762-1818). Dengan tangan besinya jalan itu diselesaikan hanya dalam waktu setahun saja (1808). Sumber Inggris melaporkan seluruh korban yang tewas akibat pembangunan Jalan raya Pos sebanyak 12.000 orang. Itu yang tercatat, diyakini jumlah korban lebih dari itu. Tak pernah ada komisi resmi yang menyelidiki.

Daendels, marsekal yang diangkat menjadi Gubernur Jenderal di Hindia Belanda oleh Napoleon (saat itu sedang menguasai Belanda), bertujuan untuk antisipasi serangan angkatan laut Inggris, yang saat itu telah memblokade Pulau Jawa. Tahun 1808, Daendels tiba di Anyer, setelah melalui perjalanan panjang melalui Cadiz di Spanyol Selatan, Kepulauan Kanari, menggunakan kapal berbendera Amerika dari New York.

daendelsveer

Ketika baru saja menginjakkan kakinya di Pulau Jawa, Daendels berangan-angan untuk membangun jalur transportasi sepanjang pulau Jawa guna mempertahankan Jawa dari serangan Inggris. Angan-angan Daendels untuk membangun jalan yang membentang antara Pantai Anyer hingga Panarukan, direalisasikannya dengan mewajibkan setiap penguasa pribumi lokal untuk memobilisasi rakyat, dengan target pembuatan jalan sekian kilometer. Yang gagal, termasuk para pekerjanya, dibunuh. Kepala mereka digantung di pucuk-pucuk pepohonan di kiri-kanan ruas jalan.

Jalan Raya Pos menghubungkan kota-kota berikut: Anyer- Serang- Tangerang- Jakarta- Bogor- Sukabumi- Cianjur- Bandung- Sumedang- Cirebon- Brebes- Tegal- Pemalang- Pekalongan- Kendal- Semarang- Demak- Kudus- Rembang- Tuban- Gresik- Surabaya- Sidoarjo- Pasuruan- Probolinggo- Panarukan.

peta-jawa-unsoed-11

Sebagian jalur Jalan Raya Pos (De Grote Postweg ) yang dibangun oleh Daendels merupakan bagian dari jalan desa yang dirintis dan ditempuh pasukan Sultan Agung saat menyerang Batavia tahun 1628 dan 1630.

Sampai di kota Sumedang pembangunan jalan harus melalui daerah yang sangat berat ditembus, di daerah Ciherang Sumedang, yang kini dikenal dengan nama Cadas Pangeran. Di sini para pekerja paksa harus memotong pegunungan dengan peralatan sederhana, seperti kampak, dan lain-lain. Dengan medan yang demikian beratnya untuk pertama kalinya ada angka jumlah korban yang jatuh mencapai 5000 orang. Penguasa daerah Sumedang pada saat itu Pangeran Kusumadinata IX (1791-1828 ) yang lebih populer dengan sebutan Pangeran Kornel memprotes Daendels atas kesemena-menaan dalam pembangunan jalan itu dengan jalan membalas jabat tangan Daendels dengan tangan kiri.

cadas_pangeran

Ketika pembangunan jalan sampai di daerah Semarang, Daendels mencoba menghubungkan Semarang dengan Demak. Kembali medan yang sulit menghadang. Bukan hanya karena tanahnya tertutup oleh rawa-rawa pantai, juga karena sebagian daripadanya adalah laut pedalaman atau teluk-teluk dangkal. Untuk itu kerja pengerukan rawa menjadi hal utama. Walau angka-angka korban di daerah ini tidak pernah dilaporkan, mudah diduga betapa banyak para pekerja paksa yang kelelahan dan kelaparan itu menjadi korban malaria.

Bersamaan dengan saat pembangunan jalan raya, Daendels juga mendirikan jasa pos dan telegraf, sehingga dikenalah juga jalan ini sebagai Jalan Raya Pos (De Groote Postweg). Digunakan sejak tahun 1809, jalan yang niatannya dibangun untuk tujuan militer ini, akhirnya berkembang menjadi prasarana perhubungan yang sangat penting di Pulau Jawa.

Jalan ini telah menjadi saksi bisu lalu lintas berbagai barang komoditas yang diangkut melintasinya sejak masa penjajahan hingga sekarang. Kini, diusianya yang ke 200 tahun, Jalan Raya Pos telah berperan sebagai salah satu urat nadi utama perekonominan Indonesia, khususnya di Pulau Jawa

Setiap jarak 30-40km terdapat Gardu Pos untuk menggantikan kuda yang membawa Kereta-Pos. Lama-kelamaan disekitar gardu Pos terbentuk Desa atau kota. Dulu sebetulnya hanya tempat kandang kuda kereta pos. Sehingga pengiriman Pos terus berjalan sampai ditujuan. Sekarang jika diperhatikan jarak antara tiap kota sepanjang Pantura sekitar 30-40km.

grotepostweg1900

poentjakpostweg

Iklan

10 tanggapan untuk “Jalan Raya Pos Daendels

  1. Gara2 pembuatan jln raya untuk pertahanan darat pulau Jawa, Daendels memerintahkan Residen Manado Predigger agar Minahasa menyediakan 2.000 pemuda, untuk dijadikan serdadu kompeni mengawal Jln di pulau Jawa dr ancaman invasi Inggeris dr India thd Hindia Belanda. Perintah Daendels dan Residen Manado Predigger dilawan suku Tondano khususnya bangsa Minahasa umumnya. Ini turut memicu Perang Tondano (1808-1809). Suku Tondano khususnya bangsa Minahasa umumnya, konsisten melawan penjajahan. Akibat perang ini, korban banyak di pihak kompeni. Hunian pusat walak/suku Tondano dibumi hangus sampai abu, tiap keluarga wajib menyerahkan beras cuma-cuma kpd kompeni, diikuti perlakuan keji tk berperi kemanusiaan thd suku Tondano. Teringat pd suasana bebas merdeka yg indah dan bahagia muncul kata sandi perjuangan “endoni-sia”, “induni-sia” dlm bhs-bhs Minahasa(Tdn,Ttb,Tmh,Ts,Tsw)terucap “indonesia”. Tersirat makna mari bersatu, rebut kembali kemerdekaan. Suatu motivasi dan komando perjuangan. Sam Ratulangi putera Tondano sewaktu studi dn memimpin Indische Vereniging (1913-1915)di Belanda, dan Asosisi Mhs Asia se Eropa mensosialisasikan kata nama “Indonesia” dr warisan budaya leluhurnya di Tondano. Idee ini disepakati bersama. Lulus Doktor Matematika 1918 di Swis pulang tanah air. Thn 1922 pertama kali kata nama “Indonesia” dipakai terang-terangan di jaman Hindia Belanda, oleh DR Sam Ratulangi dalam bisnisnya bernama, Levenverzekerings Maatschappij Indonesia” di Jl Braga Bandung. Ini disaksikan PYM Presiden RI Soekarno dlm pidato 18 Agustus 1960 di gedung pemuda Jkt, bhw idee dan kata nama “Indonesia” berasal dari DR Sam Ratulangi. Kata nama Indonesia disimak Soekarno 1922 sbg siswa MULO Surabaya usai rapat Jong Java dr DR Ratulangi di kantor bisnisnya. Kata ini dipopularisasi Soekarno lalu terbawa dlm Kongres Pemuda II 1928 terumus dlm Sumpah Pemuda. Idee “Indonesia” dr kata sandi perjuangan bangsa Minahasa membebaskan diri dari penjajahan Belanda, bangkit setelah Perang Tondano berakhir pd 5 Agustus 1809. Beda dgn idee Indonesia dr pakar Barat Earl (1847), Logan (1850), dan Bastian (1880-an) yg berakar dr kata “India,Hindustan” dan Nesos (Latin), mk idee Indonesia dr kata sandi perjuangan bangsa Minahasa, bebas dr kata-kata asing India Hindustan dan nesos yg berisiko. Kata nama itu dari khasanah budaya bangsa Minahasa, pusaka Nusantara dan kini menjadi milik bangsa besar Indonesia.

  2. biarpun daenles kjam sekali terhdap bangsa kitaa..
    namun..
    dia juga tlah mmbrikan pninggalan yang bsa manfatkan sbgai jalan raya..
    jadi..
    daendles is bad and is good…

  3. Menurut saya, Daendles membuat jalan bukan untuk kemakmuran dan kesejahteraan “inlander” (Pribumi). Tetapi semata-mata untuk kekuatan militer VOC. Kalaupun saat ini ada manfaat dari jalan tersebut untuk “inlander”, menurut saya itu merupakan suatu kebetulan semata, dan bukan merupakan cita-cita Daendles.

  4. deandles pokoknya bagus mati, kerjanya cuma bikin orang-orang meninngal dan sengsara gara-gara kerja paksa

  5. Ping-balik: Pembuatan Jalan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s