Gencarnya kegiatan kampanye para calon legislatif mengikuti pemilu 2009, ternyata telah mendongkrak harga konstituen di Jawa Tengah. Seperti layaknya harga bawang merah atau cabe keriting, patokan praktik politik uang di tingkat masyarakat rawan fluktuasi. Saat ini dana sumbangan berada di kisaran terendah Rp 5.000 per orang hingga Rp 50.000 per orang.

wah..wah..sekarang ternyata bukan fluktuasi harga barang-barang kebutuhan pokok saja yang harus diperhatikan oleh para caleg tetapi mereka sekarang harus juga memperhatikan fluktuasi harga “politik uang”…

Dampaknya bisa ditebak, setiap kali ada kegiatan pertemuan atau silaturahmi dengan warga yang terkait pemilu, caleg harus bisa memberikan dana untuk keperluan kampanye. “Ini praktik wajar tapi justru merepotkan caleg yang tidak siap anggaran besar,” ujar Sukirman, Wakil Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Partai Kebangkitan Bangsa Jateng.

Ini baru kurang ajar…apa benar praktik politik uang sekarang ini sudah pantas dibilang ga wajar??apa memang semua caleg pasti melakukan politik uang??kalo memang ini sudah wajar…wah, sudah bisa dibayangkan gimana nantinya kelakuan para caleg itu setelah terpilih. Karena untuk dipilih membutuhkan modal, maka ia pasti akan berusaha sekuat tenaga untuk memperjuangkan aspirasi rakyat “modal beserta tambahan bunga” nya kembali…

Apa benar politik seperti itu??apa benar semua politisi Indonesia seperti itu??apa sekarang prinsip ekonomi sudah menjadi dasar para politisi Indonesia??

sumber:

http://www.kompas.com/read/xml/2009/02/02/19583235/Caleg.Mulai.Pusing..Masyarakat.Mata.Duitan