Hari jumat tanggal 6 February 2009 yang lalu saya menghadiri acara perayaan tahun baru cina yang diadakan oleh Tai Ji Men (semacam perkumpulan beladiri di Taipei) tanggal 6 Februari 2009 lalu. Acara ini sendiri dihadiri oleh mantan wakil presiden Taiwan Mrs. Annete Lu, para duta besar dan para kepala kantor dagang dari berbagai negara (diantaranya duta besar Ghana, Mongolia, Mozambique dan kepala kantor dagang Malaysia, Turki, Paraguay, Jerman).

dsc_34671

Dalam acara ini kebetulan kami (10 mahasiswa Indonesia di NTUST) diminta menampilkan pertunjukan angklung, dan kami membawakan lagu Rayuan Pulau Kelapa dalam kesempatan ini. Saya sendiri hanya sempat berlatih 4 hari untuk mempersiapkan acara ini. Selain pertunjukan seni dari Indonesia, ada juga beberapa pertunjukan kebudayaan dari Taiwan, Mongolia, dan Mozambique.

dsc_3282

Di acara ini pula ada semacam pemberian penghargaan kepada para duta besar dan kepada para ketua kantor dagang dari berbagai negara atas partisipasi dan bantuannya dalam acara seminar mengenai Human Right yang telah diadakan oleh Tai Ji Men pada bulan desember 2008 yang lalu.

Dari Indonesia sendiri, rencananya ketua kantor dagang Indonesia di Taiwan (KDEI) akan menghadiri acara ini namun pada akhirnya malah tidak ada satupun perwakilan dari KDEI yang menghadiri acara ini. Sehingga praktis  mahasiswa Indonesia lah yang mewakili pemerintah Indonesia di acara ini. Pada saat penyerahan penghargaan, salah satu mahasiswa Indonesia (Mas Rizki, mahasiswa NTU) tiba-tiba menjadi perwakilan Indonesia yang maju untuk menerima penghargaan. Mas Rizki dipanggil untuk menerima penghargaan itu dengan nama dan jabatan fiktif. Sehingga secara tiba-tiba dia berubah status untuk sementara dari seorang mahasiswa menjadi seorang perwakilan pemerintah Indonesia. Kami yang melihat hal tersebut hanya bisa tertawa.

Dasar Indonesia…Indonesia….dalam acara resmi seperti itu tidak ada satupun perwakilan resmi pemerintah Indonesia, Untungnya ada mahasiswa Indonesia. Diacara itu juga hadir kepala kantor dagang Malaysia, bagaimana jadinya kalau di acara itu dia mengaku-ngaku dan menjelaskan kepada para perwakilan dari negara lain bahwa angklung adalah kebudayaan Malaysia bukan kebudayaan Indonesia, dan tidak ada perwakilan pihak dari pemerintah Indonesia yang membantah hal tersebut.