Kematian Dwiyanto Wisnugroho ketika ospek Ikatan Mahasiswa Geodesi (IMG) hari minggu 8 February 2009 di Gunung Batu masih dalam penyelidikan pihak kepolisian. Namun pihak ITB sendiri sudah mengambil beberapa langkah yang kemungkinan akan diambil. Langkah-langkah yang kemungkinan bakal diambil oleh bapak rektor ITB tercinta bapak Prof. Djoko Santoso diantaranya adalah:

  1. memberhentikan kepala program geodesi (kabar2ny sih ini kaprodi yang pro sama mahasiswa).
  2. Men DO kan Kahim, Danlap, Kakad dan pembekuan himpunan
  3. tidak menerima mahasiswa geodesi baru dalam 1 tahun bahkan mengancam membubarkan prodi geodesi.
  4. memblacklist alumni geodesi
  5. Psikotes seluruh mahasiswa GD
  6. Menyalahkan orang tua mahasiswa karena tidak bisa menjaga anaknya

Yang gw ga ngerti itu implikasi dari kejadiaan ini. Gw baca point 1-6, trus gw berfikir apa ga tralu cepet ngeluarin keputusan kaya gitu. Kok jadi kaya over react dari seorang Rektor (yang sepertinya sedang mencari jalan menjadi mentri) untuk menyelamatkan mukanya sendiri ya??Hasil penyelidikan dari pihak kepolisian belum keluar, jadi belum tau siapa yg salah. Tapi aneh bin ajaib si rektor ITB tercinta ini sudah mengeluarkan beberapa langkah over react nya yg menjurus ke kesimpulan bahwa kejadian ini adalah salah satu pihak (padahal mungkin saja itu sebuah musibah murni).

Lalu yang lebih parah lagi adalah adalah point “ITB tidak akan menerima mahasiswa baru GD untuk satu tahun”. Kenapa ITB jadi kaya Israel yg menghukum masal semua (satu jurusan) untuk kesalahan bagian kecil (yg belum tentu terbukti kesalahannya) . ITB melihat bahwa satu jurusan harus bertanggung jawab dan menerima hukuman ini dengan cara tidak menerima mahasiswa satu tahun. Karena kejadian ini ternyata kita jadi tau bahwa kekuasaan rektor seperti kekuasaan “dewa”. Dia bisa menutup atau membuka baru satu jurusan atau malah satu fakultas tanpa mempertimbangkan masak2 dan tanpa meminta pendapat dari semua pihak di ITB (sangat banyak pihak di ITB).

Lalu mengenai hukuman ke KaProdi, Kahim, KaKad, dan Danlap. Jika memang kejadian ini terbukti adalah karena kesalahan pihak IMG, secara moral memang pantas mereka menerima hukuman itu. Namun seharusnya pimpinan tertinggi daripada pimpinan yg bersalah ini (maksudnya bapak Rektor tercinta) mempunyai tanggung jawab moral juga, mungkin kalau dia bersifat seorang gentelman mungkin akan mengundurkan diri dari jabatannya. Kalau misalnya tangan kita mencuri sesuatu apakah itu hanya salah tangan??tidak! !!otak (dalam hal ini kepala) juga bersalah. Apa tangan saja yang harus dipotong??

Yang pasti implikasi dari kejadian ini pasti sangat panjang dan pastinya semua ITB pasti akan kena dampaknya. Baik itu kaderisasi maupun kegiatan kemahasiswaan yang lain. lalu apa kaderisasi harus dihilangkan??tidak!!karena kaderisasi adalah suatu keharusan dari sebuah organisasi dengan massa mengalir seperti himpunan-himpunan. Apa jadinya sebuah organisasi tanpa kaderisasi??yang harus dibenahi adalah “metodologi” dan “metode” dari kaderisasinya. Bukan malah melarang kaderisasi. Apa karena menyebar flu burung di satu desa semua ayam di satu negara harus dimusnahkan??

Turut Berduka Cita sedalam-dalamnya atas meninggalnya Dwiyanto Wisnugroho.

Semoga amal ibadanya diterima di sisi-Nya dan keluarganya diberikan kekuatan dan ketabahan.

Sumber: