Indonesia kembali diguncang gempa tektonik dengan kekuatan yang cukup besar hari kamis  12 February 2009. Gempa sebesar 7,4 pada skala Richter mengguncang Kabupaten Talaud, Provinsi Sulawesi Utara. Badan Meteorologi dan Geofisika Jakarta Kamis dini hari dalam situsnya di internet melaporkan pusat gempa yang terjadi sekitar pukul 00:34:57 WIB atau 01:34:57 WITA itu berada di 3,85 derajat Lintang Utara dan 126,67 derajat  Bujur Timur dengan kedalaman 10 kilometer di bawah permukaan laut, atau sekitar 112 kilometer arah tenggara Melonguane, Sulut. Kekuatan gempa ini berpontensi menimbulkan tsunami. Namun, peringatan tsunami tersebut telah dicabut satu jam kemudian setelah berlangsungnya guncangan gempa bumi.Guncangan gempa bumi tersebut diikuti oleh 5 guncangan gempa bumi susulan yang berkekuatan lebih dari 5 skala Richter. Belum diketahui dampak kerusakan materi yang ditimbulkan oleh guncangan gempa bumi ini.

cybb_ts

Indonesia adalah negara dengan potensi gempa yang sangat besar. Hal ini disebabkan lokasi Indonesia yang terletak pada pertemuan empat lempeng tektonik utama, yaitu lempeng Eurasia, Indo-Australia, Pasifik, dan Fhilipine sebagaimana terlihat pada gambar di bawah. Pertemuan empat lempeng tersebut mengakibatkan mekanisme tektonik dan geologi Indonesia menjadi lebih rumit. Indonesia juga memiliki struktur island-arc dengan karakteristik physiografik yang unik seperti palung samudera yang dalam, geanticlines belt, volcanic inner arc, dan marginal basin.

lempeng-tektonik-indonesia1

Berdasarkan SNI-1726 2002 Indonesia dibagi menjadi 6 wilayah gempa seperti ditunjukkan dalam  gambar dibawah ini. Dimana wilayah gempa 1 adalah wilayah dengan kegempaan yang paling rendah dan wilayah gempa 6 adalah wilayah dengan kegempaan paling tinggi. Pembagian wilayah gempa ini, didasarkan atas percepatan puncak batuan dasar akibat pengaruh gempa rencana dengan periode ulang 500 tahun, yang nilai rata-ratanya untuk setiap wilayah gempa ditetapkan dalam tabel dibawah ini.

peta-gempa-indonesia3

tabel-percepatan-gempa2

Gempa yang bekerja pada suatu struktur menyebabkan struktur tersebut akan mengalami pergerakan secara vertikal maupun secara lateral. Pergerakan tanah tersebut menimbulkan percepatan sehingga struktur yang memiliki massa akan mengalami gaya berdasarkan rumus F = m x a. Namun struktur pada umumnya memiliki faktor keamanan yang cukup dalam menahan gaya vertikal dibandingkan dengan gaya gempa lateral. Gaya gempa vertikal harus diperhitungkan untuk unsur-unsur struktur gedung yang memiliki kepekaan yang tinggi terhadap beban gravitasi seperti balkon, kanopi dan balok kantilever berbentang panjang, balok transfer pada struktur gedung tinggi yang memikul beban gravitasi dari dua atau lebih tingkat diatasnya serta balok beton pratekan berbentang panjang. Sedangkan gaya gempa lateral bekerja pada setiap pusat massa lantai.

Berdasarkan UBC 1997, tujuan desain bangunan tahan gempa adalah untuk mencegah terjadinya kegagalan struktur dan kehilangan korban jiwa, dengan tiga kriteria standar sebagai berikut:

  • Tidak terjadi kerusakan sama sekali pada gempa kecil
  • Ketika terjadi gempa sedang, diperbolehkan terjadi kerusakan arsitektural tapi bukan merupakan kerusakan struktural
  • Diperbolehkan terjadinya kerusakan struktural dan non struktural pada gempa kuat, namun kerusakan yang terjadi tidak menyebabkan bangunan runtuh.

Beban gempa nilainya ditentukan oleh 3 hal, yaitu oleh besarnya probabilitas beban itu dilampaui dalam kurun waktu tertentu, oleh tingkat daktilitas struktur yang mengalaminya, dan oleh kekuatan lebih yang terkandung didalam struktur tersebut. Peluang dilampauinya beban nominal tersebut dalam kurun waktu umur gedung 50 tahun adalah 10% dan gempa yang menyebabkannya adalah gempa rencana dengan periode ulang 500 tahun. Tingkat daktilitas struktur gedung dapat ditetapkan sesuai dengan kebutuhan, sedangkan faktor kuat lebih f1 untuk struktur gedung secara umum nilainya adalah 1,6. Dengan demikian, beban gempa nominal adalah beban akibat pengaruh gempa rencana yang menyebabkan terjadinya pelelehan pertama didalam struktur gedung, kemudian direduksi dengan faktor kuat lebih f1.