Ingatlah saat kita masih kecil dan berada di sekolah dasar. Berseragam, melakukan upacara bendera, dan bermain bersama teman-teman. Tentunya setiap sekolah dasar memiliki program pendidikan beragam. Namun ambil sebuah generalisasi dari apa yang hampir setiap sekolah dasar ajarkan pada setiap muridnya.

“Menjadi orang yang baik”

Seringkali ibu guru saya menyuruh kami, anak didiknya untuk membuang sampah yang berceceran pada tempatnya, untuk selalu menghormati orang lain dan menyayangi sesama. Pelajaran PMP jaman dulu menjadi pelajaran favorit bagi siapa saja. Mengapa? Karena pertanyaan-pertanyaan ”ulangan”nya adalah mengenai bagaimana untuk menjadi orang yang baik, dan anak-anak seusia saya sangat bisa menjawab bagaimana cara menjadi orang baik.

 

Mudah bukan menjadi orang baik?

Namun ternyata seiring bertambahnya usia, menjadi baik ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Lihat saja dari koran-koran yang beredar, apa saja yang telah dilakukan oleh para remaja seusia SMP SMA. Berapa persen murid-murid yang mencontek ketika ujian? Berapa persen yang telah membolos dan berbohong?

Kita yang berada di sini, membaca koran tetang berita tawuran remaja lalu merasa miris melihat kondisi itu dan bergumam :

” Mengapa remaja jaman sekarang menjadi seperti itu?”

Kita yang sekarang menjadi siapapun : Karyawan yang bekerja di sebuah perusahaan, kuliah di sebuah perguruan tinggi, kita yang berjejeran di busway atau kereta untuk berangkat atau pulang mencari sesuap nasi, kita yang menjajakan barang dagangan kita, menggeleng-gelengkan kepala. Menyalahkan bagaimana pendidikan di sebuah negara bernama Indonesia gagal menanamkan sebuah hal yang ditanamkan sejak sekolah dasar : “Bagaimana menjadi orang baik”

Kita menyalahkan siapa saja. Pemerintah, orang tua, dan guru-guru. Lalu akhirnya terdampar bergumam mengenai rusaknya generasi muda dan berputus asa atas semua kekecewaan itu, sudah parah dan tidak bisa terobati.

Ironi. Sementara banyak di antara kita yang menyerobot antrian panjang dengan alasan terburu-buru. Berapa banyak dari kita yang merokok di tempat umum dan tidak sadar bahwa hal itu menyesakkan paru-paru orang-orang di sebelah kita. Berapa persen dari kita yang mempersilakan para wanita tua dan hamil untuk duduk di sebuah bus yang penuh? Berapa persen dari kita yang sadar untuk membuang sampah di tempat sampah?

Lalu mari kita teliti lebih lanjut mulai dari kebaikan-kebaikan kecil.

Berapa persen dari kita yang mencuci tangan sebelum makan?

Berapa persen dari kita yang selalu tersenyum kepada semua orang yang kita kenal?

Ketika mengingat-ngingat masa sekolah dasar. Rasa-rasanya kebaikan itu mudah untuk dilakukan. Apakah dengan menjadi semakin tua, seseorang menjadi semakin “malu” untuk melakukan kebaikan yang dilakukan oleh anak-anak sekolah dasar?

Bukankah kebaikan itu dimulai dari hal kecil?

Tebarkan kebaikan.

Tularkan kebaikan.

Melalui hal-hal kecil dan bermakna.

Lalu jangan salahkan siapapun atas semua berita di koran itu.

Ketika jari telunjuk kita menunjuk seseorang, maka empat jari yang lain tertuju kepada diri kita sendiri.

Ya.. Itu adalah tanggung jawab kita semua. Pendidikan dan penanaman nilai budi pekerti para generasi muda ada di pundak kita. Setiap kita.

Bisakah kita membangun negeri ini menjadi negeri yang aman sentosa? Yang setiap generasi mudanya menghargai hidup yang telah Tuhan berikan kepada mereka lalu bercita-cita di hatinya :

“Aku akan menjadi orang yang baik, Tuhan…. “