Islam di Mata Dua Raja Jawa

Bagaimana kita membaca Wedhatama dan Wulangreh dalam konteks kekinian? Mungkin kita akan dengan mudah mengatakan bahwa pengarang Wedhatama, yakni Kanjeng Gusti Pangeran Arya Adipati (KGPAA) Mangkunegoro IV terasa sinis saat membicarakan agama Islam. Sementara pengarang Wulangreh, yakni Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (ISKS) Pakubuwono IV terasa lebih bisa menerima ajaran agama Islam. Tapi, apakah sesederhana itu?

Kalau kita baca Wedhatama karya Mangkunegoro IV, yang diterjemahkan kembali oleh Fatchurrohman (Jakarta: WWS, 2003), terbaca bahwa Mangkunegoro IV memberi pelajaran kepada anak-anaknya bahwa sebaiknya yang dijadikan panutan itu Panembahan Senopati (Raja Mataram yang pertama) dan bukan Nabi Muhammad SAW.

Hal ini terbaca pada bagian berikut ini: Nuladha laku utama, tumraping wong tanah Jawi, wong Agung ing Ngeksiganda, panembahan Senapati, kapati amarsudi, sudaning hawa lan nepsu, pinesu tapa brata, tanapi ing siyang ratri, amemangun karyenak tyasing sasama (Teladanilah sikap terpuji tokoh besar dari Mataram, Panembahan Senapati. Ia telah berupaya sepenuh hati demi terkendalinya hawa nafsu. Rajin bertapa, baik siang maupun malam, guna menciptakan ketenteraman batin sesama makhluk). Lanjutkan membaca “Islam di Mata Dua Raja Jawa”

Iklan

Jalan Raya Pos Daendels

Jalan Raya Pos (De Grote Postweg ) adalah jalan yang terbentang dari Anyer sampai Panarukan yang panjangnya kurang lebih 1000 km. Dibangun pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Belanda Herman Willem Daendels (1762-1818). Dengan tangan besinya jalan itu diselesaikan hanya dalam waktu setahun saja (1808). Sumber Inggris melaporkan seluruh korban yang tewas akibat pembangunan Jalan raya Pos sebanyak 12.000 orang. Itu yang tercatat, diyakini jumlah korban lebih dari itu. Tak pernah ada komisi resmi yang menyelidiki.

Daendels, marsekal yang diangkat menjadi Gubernur Jenderal di Hindia Belanda oleh Napoleon (saat itu sedang menguasai Belanda), bertujuan untuk antisipasi serangan angkatan laut Inggris, yang saat itu telah memblokade Pulau Jawa. Tahun 1808, Daendels tiba di Anyer, setelah melalui perjalanan panjang melalui Cadiz di Spanyol Selatan, Kepulauan Kanari, menggunakan kapal berbendera Amerika dari New York.

daendelsveer

Ketika baru saja menginjakkan kakinya di Pulau Jawa, Daendels berangan-angan untuk membangun jalur transportasi sepanjang pulau Jawa guna mempertahankan Jawa dari serangan Inggris. Angan-angan Daendels untuk membangun jalan yang membentang antara Pantai Anyer hingga Panarukan, direalisasikannya dengan mewajibkan setiap penguasa pribumi lokal untuk memobilisasi rakyat, dengan target pembuatan jalan sekian kilometer. Yang gagal, termasuk para pekerjanya, dibunuh. Kepala mereka digantung di pucuk-pucuk pepohonan di kiri-kanan ruas jalan.

Jalan Raya Pos menghubungkan kota-kota berikut: Anyer- Serang- Tangerang- Jakarta- Bogor- Sukabumi- Cianjur- Bandung- Sumedang- Cirebon- Brebes- Tegal- Pemalang- Pekalongan- Kendal- Semarang- Demak- Kudus- Rembang- Tuban- Gresik- Surabaya- Sidoarjo- Pasuruan- Probolinggo- Panarukan.

peta-jawa-unsoed-11

Sebagian jalur Jalan Raya Pos (De Grote Postweg ) yang dibangun oleh Daendels merupakan bagian dari jalan desa yang dirintis dan ditempuh pasukan Sultan Agung saat menyerang Batavia tahun 1628 dan 1630.

Sampai di kota Sumedang pembangunan jalan harus melalui daerah yang sangat berat ditembus, di daerah Ciherang Sumedang, yang kini dikenal dengan nama Cadas Pangeran. Di sini para pekerja paksa harus memotong pegunungan dengan peralatan sederhana, seperti kampak, dan lain-lain. Dengan medan yang demikian beratnya untuk pertama kalinya ada angka jumlah korban yang jatuh mencapai 5000 orang. Penguasa daerah Sumedang pada saat itu Pangeran Kusumadinata IX (1791-1828 ) yang lebih populer dengan sebutan Pangeran Kornel memprotes Daendels atas kesemena-menaan dalam pembangunan jalan itu dengan jalan membalas jabat tangan Daendels dengan tangan kiri.

cadas_pangeran

Ketika pembangunan jalan sampai di daerah Semarang, Daendels mencoba menghubungkan Semarang dengan Demak. Kembali medan yang sulit menghadang. Bukan hanya karena tanahnya tertutup oleh rawa-rawa pantai, juga karena sebagian daripadanya adalah laut pedalaman atau teluk-teluk dangkal. Untuk itu kerja pengerukan rawa menjadi hal utama. Walau angka-angka korban di daerah ini tidak pernah dilaporkan, mudah diduga betapa banyak para pekerja paksa yang kelelahan dan kelaparan itu menjadi korban malaria.

Bersamaan dengan saat pembangunan jalan raya, Daendels juga mendirikan jasa pos dan telegraf, sehingga dikenalah juga jalan ini sebagai Jalan Raya Pos (De Groote Postweg). Digunakan sejak tahun 1809, jalan yang niatannya dibangun untuk tujuan militer ini, akhirnya berkembang menjadi prasarana perhubungan yang sangat penting di Pulau Jawa.

Jalan ini telah menjadi saksi bisu lalu lintas berbagai barang komoditas yang diangkut melintasinya sejak masa penjajahan hingga sekarang. Kini, diusianya yang ke 200 tahun, Jalan Raya Pos telah berperan sebagai salah satu urat nadi utama perekonominan Indonesia, khususnya di Pulau Jawa

Setiap jarak 30-40km terdapat Gardu Pos untuk menggantikan kuda yang membawa Kereta-Pos. Lama-kelamaan disekitar gardu Pos terbentuk Desa atau kota. Dulu sebetulnya hanya tempat kandang kuda kereta pos. Sehingga pengiriman Pos terus berjalan sampai ditujuan. Sekarang jika diperhatikan jarak antara tiap kota sepanjang Pantura sekitar 30-40km.

grotepostweg1900

poentjakpostweg

Hubungan Kemerdekaan Singapura dan Indonesia

Dalam sebuah film dokumenter di Metro Tv berjudul “SECRET OPERATION (OPERASI A : SANDI GANYANG MALAYSIA)” yang tayang tanggal 16-1-2009 ada satu hal menarik yang diungkapkan tentang kemerdekaan Singapura.

Setelah perang dunia ke-2 berakhir daerah semenanjung malaka (Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam sekarang) dikuasai oleh Inggris. Ketika itu presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno menentang rencana Inggris yang akan mendirikan negara federasi Malaysia yg terdiri dari Malaya, Serawak, Sabah, Kalimantan Utara, Singapura dan Brunei. Karena Ir. Soekarno  berpendapat bahwa Malaysia hanya sebuah boneka Inggris, dan konsolidasi Malaysia hanya akan menambah kontrol Inggris di kawasan ini, sehingga mengancam kemerdekaan Indonesia dan berusaha menekan Indonesia yang saat itu menjadi pelopor “New Emerging Forces”.

Presiden Soekarno saat itu dalam pidatonya di atas podium rakyat mengatakan :
“Saya saat ini mempunyai 21 juta sukarelawan yg siap menyerbu wilayah Kalimantan Utara (Malaysia)
ada 10 serdadu malaysia masuk wilayah RI, maka 100 sukarelawan akan masuk Kalimantan Utara
ada 1000 serdadu Malaysia masuk wilayah RI, maka 10.000 sukarelawan akan masuk Kalimantan Utara”

Film dokumenter itu bercerita tentang perjuangan korps komando angkatan laut Indonesia KKO dengan julukannya “Hantu Laut”  atau yang saat ini disebut Marinir ketika masa konfrontasi dengan negara-negara bekas jajahan Inggris dulu seperti Malaysia dan Singapura. Dua orang anggota KKO  melakukan infiltrasi ke Singapura dan berhasil meledakkan Gedung The Mac Donald House yang menjadi simbol hegemoni Inggris di Asia Tenggara waktu itu. Namun sayangnya kedua orang anggota KKO tersebut ( Serda mar Janatin dan Kopral mar Harun) tertangkap dan dihukum gantung di Singapura.

Secara diam-diam rencana penyerangan Indonesia ke Singapura itu mendapat dukungan dari para aktifis kemerdekaan Singapura yaitu pejabat teras People Action Party (PAP) yang menginginkan negerinya merdeka, yang salah satu tokohnya adalah Lee Kuan Yu. Mereka lalu mengatur kesepakatan dengan Indonesia dan mendukung operasi intelijen marinir serta rencana penyerangan besar-besaran oleh pasukan Indonesia, tujuannya agar inggris cepat-cepat angkat kaki dari negara mereka. Karena prajurit Inggris yang sudah jenuh atau mungkin trauma dengan perang dunia ke-2 memilih untuk pulang ke negaranya daripada harus berperang lagi dengan Indonesia. dan akhirnya Inggris pun memilih meninggalkan Singapura dan memberikan kemerdekaannya pada mereka, dan Indonesia pun tidak jadi menyerang.

Dalam Film dokumenter itu, Pitut Suharto seorang mantan Konsulat Jenderal RI pertama di Singapura yg juga ditugaskan memata-matai Singapura saat itu, menjelaskan arti dari bendera Singapura waktu baru merdeka (entah sekarang mungkin sudah ada arti lainnya lagi, tapi inilah inspirasi pertama mereka dulu waktu baru merdeka)

singapore_flagARTI BENDERA ITU AWALNYA ADALAH :

1. Merah Putih
karena menghargai Indonesia yg telah berjasa mempercepat kemerdekaan mereka, maka Singapura terinspirasi mengambil dasar warna bendera kita yaitu : merah putih sebagai tanda bahwa mereka berada ditengah2 Indonesia.
Kini warna merah tsb diartikan sbg persaudaraan dan kesamaan segala manusia sementara warna putih nya sbg kesucian dan kebaikan.

2. Bintang 5
ditambahkan bintang 5 biji dipojok atas itu adalah pengadopsian dari Pancasila yg mempunyai 5 Sila, krn waktu itu Singapura belum memiliki dasar atau falsafah negara.
Kelak setelah mereka kini telah mempunyai falsafah negara, kemudian arti 5 bintang itu adalah : demokrasi, keamanan, kemajuan, keadilan dan kesaksamaan (democracy, peace, progress, equality and justice)

3. Bulan Sabit
lambang bulan sabit itu adalah sebagai tanda bahwa Singapura sangat menghargai bahwa mereka hidup ditengah2 masyarakat yg mayoritas muslim. belakangan kemudian bulan sabit itu juga diartikan sbg sebuah negara muda yang sedang maju

Dalam konfrontasi ini pihak Indonesia kehilangan sebanyak 168 orang yang gugur dan 520 orang yang ditawan. Masih banyak dari mereka yang jasadnya masih belum dipulangkan ke Indonesia.

Untuk video nya bisa dilihat di:

Part 1

Part 2

Part 3

nb: Menurut Sejarah Melayu, nama Singapura diberikan oleh Sang Nila Utama, pangeran Melayu dari Palembang pada awal abad ke 14. Ketika Sang Nila Utama berlayar di laut, terjadi badai dan angin kencang yang mengakibatkan perahunya terdampar di sebuah pulau. Saat di pulau, Sang Nila Utama melihat seekor binatang yang menyerupai singa. Oleh karena itu, pulau tersebut dinamakan Singapura.

sumber: http://www.kaskus.us

Hari Ibu Tidak Sama dengan “Mother’s Day”

Menurut arus utama yang berkembang di Indonesia saat ini, Hari Ibu di Indonesia dimaknai mengikuti tradisi Mother’s Day ala Amerika Serikat atau Eropa yang mendedikasikan hari itu sebagai penghormatan terhadap jasa para ibu dalam merawat anak-anak dan suami serta mengurus rumah tangga.

Pada hari itu kaum perempuan dibebaskan dari tugas domestik yan g sehari-hari dianggap merupakan kewajibannya, seperti memasak, merawat anak, dan urusan rumah tangga lainnya.

Manifestasi Mother’s Day ini kerap dinyatakan dengan mengirim kartu, memberikan bunga, menggantikan peran ibu di dapur, dan membelikan hadiah. Biasanya hadiah yang dipilih pun adalah benda yang mencerminkan “sifat keibuan”, seperti perlengkapan dapur yang cantik.

Inti pemaknaan Mother’s Day macam ini adalah perayaan peran domestik perempuan sekaligus peneguhan posisi perempuan sebagai makhluk domestik. Domestifikasi perempuan ini mengawetkan bilik dapur, sumur, dan kasur sebagai domain kaum perempuan.

Hari Ibu di Tanah Air yang jatuh pada tanggal 22 Desember mempunyai akar sejarah dan makna jauh berbeda dari tradisi Mother’s Day model Barat. Momentum ini bertolak dari semangat pembebasan nasib kaum perempuan dari belenggu ketertindasan pada waktu itu.

Peristiwa ini terjadi pada momentum Kongres Perempuan Indonesia I di Yogyakarta pada 22-25 Desember 1928 (dua bulan setelah Sumpah Pemuda) yang dihadiri sekitar 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera. Tujuan kongres ini untuk mempersatukan cita-cita dan usaha memajukan perempuan Indonesia dan menggabungkan organisasi-organisasi perempuan Indonesia dalam suatu badan federasi yang demokratis tanpa memandang latar belakang agama, politik, dan kedudukan sosial dalam masyarakat.

Sifat yang luas dan demokratis dari Kongres Perempuan I ini dibuktikan oleh ikutnya, antara lain, organisasi Wanita Utomo, Wanita Tamansiswa, Putri Indonesia, Aisyiyah, Jong Islamieten Bond bagian Wanita, Wanita Katholik, dan Jong Java bagian Perempuan.

Kongres ini adalah salah satu puncak kesadaran berorganisasi kaum perempuan Indonesia. Kongres Perempuan I ini berhasil merumuskan beberapa tuntutan yang penting bagi kaum perempuan Indonesia, seperti penentangan terhadap perkawinan anak-anak dan kawin paksa, tuntutan akan syarat-syarat perceraian yang menguntungkan pihak perempuan, sokongan pemerintah untuk para janda dan anak yatim, beasiswa untuk anak perempuan dan sekolah-sekolah perempuan.

Bila kita tilik, cakupan persoalan yang dibahas Kongres Perempuan I ini menunjukkan keluasan persoalan dan upaya memperjuangkan hak-hak kaum perempuan secara lebih baik pada waktu itu. Dan, yang cukup penting kita cermati adalah hasil keputusan kongres tersebut untuk mendirikan badan permufakatan bernama Perikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia (PPPI) yang bertujuan menjadi pertalian segala perhimpunan perempuan Indonesia dan memperbaiki nasib dan derajat perempuan Indonesia.

Untuk mencapai maksud itu, ada rekomendasi-rekomendasi yang sangat maju bahkan untuk ukuran saat ini, seperti membuat kongres perempuan tiap tahun; mengupayakan beasiswa bagi anak-anak perempuan; menerbitkan surat kabar yang menjadi media perempuan Indonesia untuk memperjuangkan hak-hak, kewajiban, kebutuhan, dan kemajuan kaum perempuan; mengirimkan mosi kepada pemerintah untuk memperbanyak sekolah bagi anak perempuan; dan menyediakan dana bagi para janda dan anak yatim.

PPPI mampu menyelenggarakan kongres-kongres hampir tiap tahun. Dari notula rapat yang dimuat dalam buku Peringatan 30 tahun Kesatuan Pergerakan Perempuan Indonesia 1928-1958 bisa dilihat perkembangan mereka. Pada tahun 1930 kongres PPPI merekomendasikan berbagai kerja konkret yang lebih maju lagi, seperti menguatkan Perkumpulan Pemberantasan Perdagangan Perempuan dan Anak-anak (P4A), menyelidiki kondisi kesehatan perempuan dan kematian bayi di pedesaan, membuat propaganda tentang dampak buruk perkawinan dini bagi perempuan, mendirikan kantor penyuluh perburuhan, hak-hak perempuan dalam perkawinan, mempelajari hak pilih bagi kaum perempuan.

Semua rekomendasi ini dibuat oleh gerakan perempuan Indonesia tiga perempat abad lalu dan tak bisa kita ingkari kekaguman kita terhadap mereka, serta rasa malu untuk melihat betapa mundurnya gerakan perempuan kita saat ini. Kampanye antiperdagangan perempuan dan anak yang sekarang baru menjadi tren di kalangan organisasi perempuan, sudah secara konkret menjadi agenda gerakan perempuan sejak 75 tahun lalu!

Makna historis penting lainnya dari Kongres Perempuan I adalah menjadi batu pertama yang menandai babak baru bangkitnya gerakan kaum perempuan Indonesia pada waktu itu untuk berorganisasi secara demokratis tanpa membedakan agama, etnis, dan kelas sosial.

Lebih jauh lagi, Kongres Perempuan I, yang hari berlangsungnya sekarang diperingati menjadi Hari Ibu, ini telah mengilhami gerakan perempuan di wilayah politik dan ekonomi untuk mencapai tahap yang cukup berarti. Buah perjuangan perempuan tersebut bisa dilihat dari pengakuan bahwa perjuangan gerakan perempuan adalah bagian tak terpisahkan dari perjuangan kemerdekaan nasional, seperti tercantum dari pidato-pidato dan kata sambutan pengurus pusat berbagai partai politik dan tokoh-tokoh Indonesia terkemuka pada Peringatan Ke-25 Hari Ibu pada tahun 1953. Buah-buah itu pun bisa dinikmati kalangan perempuan pada zaman itu, seperti hak pilih bagi perempuan, syarat perceraian yang menguntungkan pihak perempuan, serta dibukanya penitipan anak bagi pekerja pabrik dan buruh kebun.

PENETAPAN tanggal 22 Desember sebagai perayaan Hari Ibu diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938. Peringatan 25 tahun Hari Ibu pada tahun 1953 dirayakan meriah di tak kurang dari 85 kota Indonesia, mulai dari Meulaboh sampai Ternate.

Berbagai bentuk perayaan Hari Ibu pada masa-masa itu juga sangat menarik untuk kita kaji kembali. Di Solo, misalnya, 25 tahun Hari Ibu dirayakan dengan membuat pasar amal yang hasilnya untuk membiayai Yayasan Kesejahteraan Buruh Wanita dan beasiswa untuk anak-anak perempuan. Pada waktu itu panitia Hari Ibu Solo juga mengadakan rapat umum yang mengeluarkan resolusi meminta pemerintah melakukan pengendalian harga, khususnya bahan-bahan makanan pokok.

Pada tahun 1950-an, peringatan Hari Ibu mengambil bentuk pawai dan rapat umum yang menyuarakan kepentingan kaum perempuan secara langsung. Dan, bentuk-bentuk perjuangan tersebut tentu sangat berbeda dibandingkan dengan perayaan Hari Ibu pada masa kini yang mencerminkan domestifikasi kaum perempuan dan lebih merupakan perayaan budaya konsumerisme.

Sudah 76 tahun berlalu semenjak diselenggarakannya Kongres Perempuan Indonesia I yang saat ini kita peringati sebagai Hari Ibu. Gerakan perjuangan mereka yang menyentuh kepentingan dan kemajuan konkret kaum perempuan bisa menjadi teladan bagi gerakan perempuan di masa kini. Ada banyak hal telah dicapai dan masih sangat banyak yang belum.

Tuntutan mereka masih aktual sampai sekarang karena sampai saat ini banyak kaum perempuan Indonesia belum mendapatkan hak-haknya dan persatuan gerakan perempuan di Indonesia belum terwujud. Bahkan, dalam konteks berorganisasi keberadaan organisasi perempuan sekarang ini harus diakui jauh tertinggal dari masa itu.

Adalah kewajiban penting dari gerakan perempuan dan gerakan rakyat saat ini untuk meneruskan tradisi maju yang telah diletakkan di Indonesia pada titik sejarah yang sangat bermakna itu.

Yeni Rosa Damayanti dan Hary Prabowo

sumber: http://swaramuslim.net/galery/sejarah/index.php?page=hari_ibu

-Selamat Hari Ibu